Akulah gadis kecil yang menatapmu tajam waktu itu. Ketika aku menginjakkan kakiku di sekolahmu, sekolah yang kini jadi sekolahku juga. Kamu sangat sibuk waktu itu, ah jangankan melihatku, mungkin menyadari tatapanku saja mungkin tidak. Kamu berjalan mengitari barisan, mengabsen satu persatu murid baru yang akan jadi adik kelasmu. Lucu rasanya aku bisa sangat terkagum denganmu, padahal namamu saja aku tak tahu. Kukirimkan segulung surat yang ah mungkin itu aneh bagimu. Gadis kecil mengungkapkan kekagumannya sejak pertama kali bertemu, mungkin kamu anggap itu hanya bagian dari tugasku yang harus kuselesaikan. Lalu sejak itu, kuputuskan untuk mengagumimu, entah kamu akan peduli atau tidak.
Rasanya baru kemarin semua itu terjadi. Saat aku menyelipkan snack coklat murahan yang kubeli di kantin ke tasmu, saat aku merasa gila ketika kamu berbicara padaku, walaupun hanya sebatas mengucapkan kata terimakasih.
Tapi sekarang kita sudah ada di ujung perpisahan, sakit rasanya jika membayangkan kepergianmu. Jika kamu benar benar pergi, lalu siapa yang akan ku amati diam-diam dari balik jendela kantin, siapa yang akan kupandangi sujudnya dan diam-diam ku amini doanya, siapa yang akan kukagumi permainan futsalnya, siapa yang akan kutunggu tunggu pertemuannya walaupun sebatas berpapasan di tempat parkir.
Ah memang kekagumanku sepengecut itu. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Melihatmu yang malah menghindar ketika akan berpapasan pun sudah membuatku sadar diri, melihat wanita idamanmu saja membuatku merasa tak pantas untuk disampingmu.
Dan apabila esok hari kau benar-benar pergi, aku pasti akan selalu merindukanmu. Terimakasih sudah membuatku merasakan semua, merasakan sakitnya, bahagia, debar jantungnya, gilanya, ah semuanya.
Aku akan terus mendoakanmu, semoga sukses, jangan lupa berdoa, dan jangan lupa bahagia, mas!
Dari: (satu-satunya aku di dunia)
Rasanya baru kemarin semua itu terjadi. Saat aku menyelipkan snack coklat murahan yang kubeli di kantin ke tasmu, saat aku merasa gila ketika kamu berbicara padaku, walaupun hanya sebatas mengucapkan kata terimakasih.
Tapi sekarang kita sudah ada di ujung perpisahan, sakit rasanya jika membayangkan kepergianmu. Jika kamu benar benar pergi, lalu siapa yang akan ku amati diam-diam dari balik jendela kantin, siapa yang akan kupandangi sujudnya dan diam-diam ku amini doanya, siapa yang akan kukagumi permainan futsalnya, siapa yang akan kutunggu tunggu pertemuannya walaupun sebatas berpapasan di tempat parkir.
Ah memang kekagumanku sepengecut itu. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Melihatmu yang malah menghindar ketika akan berpapasan pun sudah membuatku sadar diri, melihat wanita idamanmu saja membuatku merasa tak pantas untuk disampingmu.
Dan apabila esok hari kau benar-benar pergi, aku pasti akan selalu merindukanmu. Terimakasih sudah membuatku merasakan semua, merasakan sakitnya, bahagia, debar jantungnya, gilanya, ah semuanya.
Aku akan terus mendoakanmu, semoga sukses, jangan lupa berdoa, dan jangan lupa bahagia, mas!
Dari: (satu-satunya aku di dunia)
Komentar
Posting Komentar