Bersembunyi
Wanita beruntung itu berjalan mengamit lenganmu. Melewati koridor dengan santainya. Tak menyadari ada sepasang mata yang terus mengawasimu.
Sampai kapan akan seperti ini? Tak terbayangkah olehmu rasa sakit yang kualami kini?
Oh aku salah. Untuk apa kamu membayangkan kesakitan ku sedangkan kamu sedang berada di tengah-tengah lautan kebahagiaan.
Aku memang harus kuat. Aku kan malaikat. Malaikat tanpa sayap yang selalu melindungimu dari semua hal buruk yang akan menghantammu. Kecuali satu, melindungimu dari pesona wanita yang sangat beruntung itu.
Kalian terus berjalan dengan santainya. Bahkan melewatiku. Kamu bodoh? atau memang tak peduli? kamu seperti manusia tak punya hati! Apakah kita memang benar-benar tak jodoh? sedikitpun kamu tak merasakannya? ataupun melihat mataku yang berkaca-kaca ini? Sial.
Setelah semua hal yang pernah kita lewati, semua hal yang pernah kita tertawai bersama, semua hal yang membuat kita terlihat bodoh bersama. Kamu pasti tak akan mendapatkan rasa yang sama sepertiku. Rasa yang membuat tanganku bergetar saat berada disampingmu, yang membuat jantungku berdegup kencang, yang membuatku terlihat bodoh saat berbicara denganmu, yang membuatku selalu melamun di waktu-waktu senggangku. Aku memang bodoh!
Untuk apa mengharapkan kamu memiliki rasa yang sama sepertiku? Aku pikir itu akan membuatku semakin terluka. Wanita beruntung itu telah mendapatkan hatimu, mendapatkan perhatianmu, dan segalanya. Tak akan sebanding kalau dibandingkan denganku, karena aku hanya mendapatkan bayang-bayangmu saja kan? iya kan?
Lentiknya jemari itu, manisnya senyum itu, ataupun sinar mata itu pastilah sangat berbeda dengan milikku. Aku kan hanyalah malaikat bodoh, udik, dan cerewet yang tak beruntung. Yang terjebak kedalam senyumanmu yang menawan, yang sedang berusaha melarikan diri dari semua ini.
Sekarang, kalian telah melewatiku. Aku sekarang dapat melihat jelas tangan dan jemari indah itu menggatung di lenganmu. Punggungmu dan punggungnya terlihat sangat cocok. Punggungmu dan punggung wanita manis dan polos itu pergi menjauh. Tak kuat lagi aku melihatnya. Aku hanya menundukkan kepala dan mendengar tawa lepas kalian. Tawa itu seharusnya milikku! ya! seharusnya milikku. Aku rasa aku pantas mendapatkan tawa itu, aku sudah berusaha lebih dari wanita manis itu! Tak pantaskah aku berharap?
Tapi sekarang semuanya sudah terlambat. Pipiku telah basah oleh air mata. Hanya air mata ini yang dapat menyembuhkanku untuk sementara waktu ini. Air mata ini membuatku merasakan kesendirian, dan kesendirianlah yang akan membuatku merasa lebih baik. Sudahlah, aku sudah biasa seperti ini.
Sampai kapan akan seperti ini? Tak terbayangkah olehmu rasa sakit yang kualami kini?
Oh aku salah. Untuk apa kamu membayangkan kesakitan ku sedangkan kamu sedang berada di tengah-tengah lautan kebahagiaan.
Aku memang harus kuat. Aku kan malaikat. Malaikat tanpa sayap yang selalu melindungimu dari semua hal buruk yang akan menghantammu. Kecuali satu, melindungimu dari pesona wanita yang sangat beruntung itu.
Kalian terus berjalan dengan santainya. Bahkan melewatiku. Kamu bodoh? atau memang tak peduli? kamu seperti manusia tak punya hati! Apakah kita memang benar-benar tak jodoh? sedikitpun kamu tak merasakannya? ataupun melihat mataku yang berkaca-kaca ini? Sial.
Setelah semua hal yang pernah kita lewati, semua hal yang pernah kita tertawai bersama, semua hal yang membuat kita terlihat bodoh bersama. Kamu pasti tak akan mendapatkan rasa yang sama sepertiku. Rasa yang membuat tanganku bergetar saat berada disampingmu, yang membuat jantungku berdegup kencang, yang membuatku terlihat bodoh saat berbicara denganmu, yang membuatku selalu melamun di waktu-waktu senggangku. Aku memang bodoh!
Untuk apa mengharapkan kamu memiliki rasa yang sama sepertiku? Aku pikir itu akan membuatku semakin terluka. Wanita beruntung itu telah mendapatkan hatimu, mendapatkan perhatianmu, dan segalanya. Tak akan sebanding kalau dibandingkan denganku, karena aku hanya mendapatkan bayang-bayangmu saja kan? iya kan?
Lentiknya jemari itu, manisnya senyum itu, ataupun sinar mata itu pastilah sangat berbeda dengan milikku. Aku kan hanyalah malaikat bodoh, udik, dan cerewet yang tak beruntung. Yang terjebak kedalam senyumanmu yang menawan, yang sedang berusaha melarikan diri dari semua ini.
Sekarang, kalian telah melewatiku. Aku sekarang dapat melihat jelas tangan dan jemari indah itu menggatung di lenganmu. Punggungmu dan punggungnya terlihat sangat cocok. Punggungmu dan punggung wanita manis dan polos itu pergi menjauh. Tak kuat lagi aku melihatnya. Aku hanya menundukkan kepala dan mendengar tawa lepas kalian. Tawa itu seharusnya milikku! ya! seharusnya milikku. Aku rasa aku pantas mendapatkan tawa itu, aku sudah berusaha lebih dari wanita manis itu! Tak pantaskah aku berharap?
Tapi sekarang semuanya sudah terlambat. Pipiku telah basah oleh air mata. Hanya air mata ini yang dapat menyembuhkanku untuk sementara waktu ini. Air mata ini membuatku merasakan kesendirian, dan kesendirianlah yang akan membuatku merasa lebih baik. Sudahlah, aku sudah biasa seperti ini.
Komentar
Posting Komentar