Pertanyaan-pertanyaan untukmu
Rasanya ada yang berbeda. Semua tak lagi sama. Entah hanya aku, atau juga kamu. Tapi perkiraanku itu hanya rasa aneh yang ada dalam diriku saja. Karena aku pikir kamu tak mersakannya. Rasa yang berbeda ketika kita saling tertawa. Rasa yang berbeda ketika kita mata kita saling bertemu.
Aku takut. Jelas aku takut. Perasaan konyol ini muncul lagi. Setelah lama hilang, entah kapan hilangnya dan entah kapan muncul kembali. Aku takut suatu saat nanti aku jauh dari senyum dan tawa-tawamu bahkan menghilang dari itu. Karena tubuh ini terasa tersiksa ketika tak ada di sisimu. Tapi apa? ketika kau benar-benar di sisiku aku malah tak bisa berbuat apa-apa. Jangankan menyentuhmu, menatapmu saja membuat jantungku berdegup kencang.
Otakku juga demikian. Saat tak berada di dekatmu, otakku ini berfikir semua tentangmu, tentang hal-hal yang sangat biasa yang pernah kita lakukan. Bahkan sialnya, otakku ini mengingatmu lebih mudah daripada mengingat satuan-satuan fisika ataupun rumus-rumus matematika. Gila memang. Tapi apa saat didekatmu? mati. Otakku tak bisa berfungsi normal. Aku seperti dikendalikan olehmu, oleh pesonamu.
Kamu mungkin tak paham dan sama sekali tak mengerti tentang perasaan anehku ini. Bodoh! Kamu kan memang tak pernah memikirkanku. Apalagi untuk memahami? apa itu memahami? kamu pasti tak tahu caranya untuk memahami ku, memahami tatapan-tatapan penuh harapanku. Terlintas di mimpimu saja sudah mustahil apalagi memahami. Dasar bodoh aku ini!
Yah seharusnya aku menyadari satu pertanyaan ini sedari tadi. "Siapa aku?" Ya! Aku siapa. Aku tak mempunyai hak apapun untuk hidupmu. Jangankan hak, alasan untuk aku bisa menyuruhmu memahamiku pun aku tak punya.
Sia-sia memang. Tanganku yang selalu bergetar saat didekatmu. Jantungku yang berdegup lebih kencang. Dan aku yang selalu menahan mataku agar tak menatapmu. Entah apa yang ada di hatimu aku tak tau. Rasanya aku juga tak mau tau. Karena aku yakin itu akan menyakitkan bagi diriku sendiri.
Tapi aku juga punya pertanyaan untukmu. Dimana kau taruh hatiku selama ini? Oh aku salah. Karena sejak awal kamu memang tak pernah mengadahkan tangan untuk menerimanya. Tapi masih saja aku paksakan. Huh. Beruntungnya seorang yang bisa mendapatkan hatimu. Beruntungnya dia jika kamu tak pernah mau melepaskannya. Tapi jika untuk melepaskan itu suatu keinginan, bisakah aku melepaskanmu?
Aku takut. Jelas aku takut. Perasaan konyol ini muncul lagi. Setelah lama hilang, entah kapan hilangnya dan entah kapan muncul kembali. Aku takut suatu saat nanti aku jauh dari senyum dan tawa-tawamu bahkan menghilang dari itu. Karena tubuh ini terasa tersiksa ketika tak ada di sisimu. Tapi apa? ketika kau benar-benar di sisiku aku malah tak bisa berbuat apa-apa. Jangankan menyentuhmu, menatapmu saja membuat jantungku berdegup kencang.
Otakku juga demikian. Saat tak berada di dekatmu, otakku ini berfikir semua tentangmu, tentang hal-hal yang sangat biasa yang pernah kita lakukan. Bahkan sialnya, otakku ini mengingatmu lebih mudah daripada mengingat satuan-satuan fisika ataupun rumus-rumus matematika. Gila memang. Tapi apa saat didekatmu? mati. Otakku tak bisa berfungsi normal. Aku seperti dikendalikan olehmu, oleh pesonamu.
Kamu mungkin tak paham dan sama sekali tak mengerti tentang perasaan anehku ini. Bodoh! Kamu kan memang tak pernah memikirkanku. Apalagi untuk memahami? apa itu memahami? kamu pasti tak tahu caranya untuk memahami ku, memahami tatapan-tatapan penuh harapanku. Terlintas di mimpimu saja sudah mustahil apalagi memahami. Dasar bodoh aku ini!
Yah seharusnya aku menyadari satu pertanyaan ini sedari tadi. "Siapa aku?" Ya! Aku siapa. Aku tak mempunyai hak apapun untuk hidupmu. Jangankan hak, alasan untuk aku bisa menyuruhmu memahamiku pun aku tak punya.
Sia-sia memang. Tanganku yang selalu bergetar saat didekatmu. Jantungku yang berdegup lebih kencang. Dan aku yang selalu menahan mataku agar tak menatapmu. Entah apa yang ada di hatimu aku tak tau. Rasanya aku juga tak mau tau. Karena aku yakin itu akan menyakitkan bagi diriku sendiri.
Tapi aku juga punya pertanyaan untukmu. Dimana kau taruh hatiku selama ini? Oh aku salah. Karena sejak awal kamu memang tak pernah mengadahkan tangan untuk menerimanya. Tapi masih saja aku paksakan. Huh. Beruntungnya seorang yang bisa mendapatkan hatimu. Beruntungnya dia jika kamu tak pernah mau melepaskannya. Tapi jika untuk melepaskan itu suatu keinginan, bisakah aku melepaskanmu?
Komentar
Posting Komentar